Duit Receh dan Pertamina

by

Receh buat saya adalah standar para kelas menengah buat merelakan rupiahnya untuk diberikan pada layanan non resmi semacam parkir, musik karya pengamen atau secara cuma - cuma pada kotak sumbangan. Duit receh ini merupakan batas kerelaan, titik dimana tidak ada ganjalan di hati, rela saja kalau diberikan ke orang atau tidak diminta kalaupun tidak ada uang kembalian.

Selama ini saya pikir receh itu paling banyak seribu rupiah, satuan receh paling besar dalam bentuk koin. Hari ini saya baru sadar kalau standar nominal uang receh ini sudah sangat bergeser.

Setahun lalu duit kertas paling kecil dan juga receh paling besar yang paling gampang ditemukan adalah lembaran Pattimura seribu rupiah, sekaligus juga pecahan paling besar dalam bentuk koin. Seribu ini merupakan titik paling pas, bentuknya kertas, masih pantas lah diberikan pada bapak tukang parkir yang nongkrongin motor. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit.

Baru kemudian muncul pecahan dua ribuan, dan lambat laun tukang parkir liar pun naik tarif, duit seribuan makin susah didapat.  Seperti tukang parkir di Seven Eleven Kemanggisan,  seribu rupiah pasti masih minta tambah. Buat saya ini menyebalkan, tarif parkir motor naik dua kali lipat dan jelas tidak akan bertanggung jawab kalau helm yang ditaruh di motor hilang, baik helmnya saja atau sekalian motornya.

Soal duit receh ini, rasa-rasanya kalaupun ada yang lebih menyebalkan daripada dimintai parkir motor dua ribu rupiah, itu adalah kejadian yang saya alami kemarin sore di sebuah pompa bensin dekat kantor. Alkisah setelah menerima Soekarno-Hatta dari saya, petugas pompa bensin tersebut memberikan uang kembalian sebesar Rp 71.000,00 dari harga bahan bakar Rp 28.175,00 untuk mengisi penuh tangki motor saya.

Disinilah seratus tujuh puluh lima rupiah bisa digenapkan menjadi seribu. Cuma butuh lima menit kurang.

Nah, seratus tujuh puluh lima rupiah digenapkan menjadi seribu rupiah? Penggenapan macam ini menyeramkan sekali, jangan - jangan suatu saat ketika duit seribuan susah ditemukan, seratus tujuh puluh lima rupiah bakal digenapkan jadi dua ribu? *masukkan emot ketawa prihatin disini.*

Dan hal ini terjadi biasa saja. Tanpa permintaan maaf karena tidak ada uang kembalian, tanpa ekspresi sungkan. Biasa saja, seolah hal serupa sangat sering terjadi.

Padahal saat saya mengantri, tidak kurang ada dua puluh sepeda motor lain sedang mengisi bahan bakar disitu. Dalam waktu sedemikian singkat, selama mengantri hingga selesai, sudah dua puluh motor. Bagaimana jika seharian, ada berapa saja yang mengisi bahan bakar disana? Saya bayangkan, kalau masing-masing saja merelakan rupiah - rupiah kecil kembalian transaksi, pasti banyak yang sekali bisa didapat selama sebulan tanpa perlu menjual apapun kepada siapapun.

Recehan ini mungkin saja kecil-kecil, tapi satu juta kurang seratus rupiah, tetap saja bukan sejuta kan?

Ya sudahlah, kalau nanti beli BBM lagi sebaiknya pakai uang pas dan tunjuk jumlah rupiah. Jaman parkir sudah dua ribu rupiah ini, Pertamina sepertinya makin sulit cari receh untuk uang kembalian.