Cerita Bapak dan Cerita Para Menteri

by

Saya masih ingat bagaimana saat saya masih kecil dulu memprotes bapak dan ibu saya yang sering pulang malam. Waktu itu saya masih di TK, bocah kecil yang sangat manja pada bapak ibunya.

Mereka tidak pernah membentak dan menyuruh saya diam. Cara menanggapi protes mereka cerdik. Saat saya protes, mereka lantas bercerita tentang apa - apa yang mereka alami di sekolah dan kadang membawa saya ke sekolah tempatnya mengajar.

Biar saya melihat, kata bapak. Tentang bagaimana lucunya murid-murid mereka saat menjawab soal , tentang bagaimana nanti kalau mereka tidak mendapat pengetahuan yang cukup. Dan kemudian protes saya berubah jadi pemahaman, tentu saja masih pemahaman polos seorang bocah kecil manja.

Saya tiba-tiba ingat bagaimana bapak ibu saya dulu memahamkan saya pada tindakan mereka, ketika membaca dua berita hari ini, tentang dua orang Menteri kita dan cara mereka menjelaskan kebijakan mereka pada publik dan "anak-anaknya" di Kementerian masing-masing.

Dalam satu berita dikisahkan -atau lebih tepatnya digiring untuk menjadikan- sang menteri sebagai manusia bebal yang memilih merumahkan karyawan maskapai penerbangan dengan memberikan masing- masing dua hektar lahan sawit. Satu berita lainnya, mengenai gagasan TOEFL dengan skor 600 untuk pegawai negeri sipil di kementeriannya. Enam ratus buat skor TOEFL itu tidak main - main lho. :))

Dan ya, dia dipelintir tanpa ada yang melihat kepentingan jangka panjang, jadi guyonan di linimasa. Saya juga terseret menertawakan kebijakan tersebut, tanpa tahu lebih dulu apa maksudnya. :))

Permainan media semacam ini sudah sangat umum. Dengan potongan - potongan berita yang singkat dan pernyataan yang dipotong-potong, gampang saja kita tergiring mempercayai berita tersebut bukan?

Bedanya, Menteri yang pertama menuliskan blog pribadinya (?) mengenai kebijakan - kebijakan yang dia ambil. Jadi saya bisa membaca langsung, buah pikiran yang keluar darinya, tanpa ada pemenggalan kalimat atau apapun yang menambah ketidak jelasan maksud wawancara. Sedangkan menteri yang kedua, hanya menerima wwancara dan mengeluarkan press release dan kemudian dibenturkan dengan hasil-hasil wawancara sebuah media dengan anak buahnya.

Kemudian bisa ditebak, beberapa media langsung menjadikan gambaran seolah kementerian ini menjadi tidak solid, banyak penentangan dari pelaksana. Bahwa para PNS langsung gelisah mendengar kabar tentang standar TOEFL 600 ini.

Padahal sebenarnya tidak perlu khawatir, TOEFL 600 itu standar, pencapainnya akan bisa kita lihat dari hasil evaluasi nanti!

Yang diutamakan pastinya adalah pendidikan dan penguatan mutu pegawai, bukan cuma skor. Barangkali terlalu tinggi, maka standar ini bisa saja disesuaikan. Intinya Kementerian ini menghendaki bahwa setiap PNS dalam naungannya nanti bakal memiliki kemampuan yang tinggi utamanya dalam komunikasi. Hanya saja, maksud ini tidak tersampaikan dengan baik.

Menurut keyakinan saya, jadi pemimpin kunci utamanya ada pada dialog, mampu menyampaikan, mampu mendengar. Yang bisa jadi pemimpin yang baik adalah dia yang bisa berkomunikasi langsung, tak perlu terlalu pintar, namun harus bisa memotivasi.

Seorang menteri yang memiliki bawahan ribuan manusia ini, harus bisa menjelaskan layaknya orang tua memberi pengertian pada anaknya. Menyampaikan rencana dengan cerita - cerita yang mereka sendiri dari kata dan tulisan, berbicara dengan cerdas pada anak-anaknya yang belum mengerti.

Semoga bapak ibu menteri sekalian segera menyadari ini dan mulai menulis esei beberapa hari sekali. Semoga.