Biaya Sebuah Pesta, Berapa?

by

Malam Minggu ini saya memilih berada di kost, baru saja keluar sebentar untuk makan malam, untuk kemudian diganggu hal yang sama sejak hari Minggu yang lalu.

Kalau ada sesuatu hal yang terus - menerus mengganggu minggu terakhir ini, itu adalah pesta perkawinan. Dekat Desember ini memang musim kawin sepertinya. Sialnya lagi,sekarang saya hidup di Jakarta, kampung besar yang minta disebut metropolitan.

Metropolitan mana yang memblokir separuh jalur lambat buat hajatan pernikahan kalau bukan Jakarta? Bahkan yang mengawal blokir jalanan hari itu pun bukan polisi, tapi entah seragam ormas apa berawalan F.

Hari Minggu kemarin saya menghadapi yang pertama. Bayangkan sebuah pelaminan nangkring di trotoar, tentu saja lengkap dengan panggung dangdut ber-sound system pecah - pecah yang bisa membuat telinga menangis. Puluhan kursi chitose yang ditata sedemikian rupa menghadap pagar rumah - rumah rapat di tepi jalan besar. Tenda putih yang terlihat sudah mulai hitam terkena asap kopaja lewat, sementara orang - orang di dalam tenda mengipas kegerahan dan sesak. Tepian jalan dipenuhi mobil parkir, mulai angkot sewaan sampai avanza, dan di jalanan ada berpuluh mobil terjebak macet

Buat sebuah resepsi, biaya agregat yang dikeluarkan seluruh pengguna jalan pasti sangat besar. Bahan bakar yang terbuang percuma dan lagi efek stress yang tidak terbayar dengan uang pasti lebih besar lagi. Hari minggu, pagi jam sembilan terkena macet setelah turun dari flyover yang biasanya cuma padat di hari kerja.

Belum cukup dengan pesta aneh semacam tadi, sore ini saya mendapati satu gang di dekat kost diblokir. Buat pesta katanya, bahkan ada sebuah kopaja disewa dan dibawa masuk ke gang sempit ini. Satu gang diblokir, suara lagu gegap gempita dan para pengendara motor pun akhirnya diuji dengan rangsekan pejalan kaki dan mobil yang tumpah ruah di jalan.

Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa bukan cuma petinggi saja yang pesta pernikahannya mahal, rakyatnya juga, lebih mahal lagi.

Seporsi tongseng sudah terhidang, sebuah kopaja lewat. Dan, akhirnya saya sukses mengarungi jalanan. Bukti bahwa SIM saya bukan sekedar surat tanpa skil. :))


dicomot dari chocolatesprinkles.wordpress.com, tidak ada kaitan dengan makan malam saya kecuali kesamaan menu ;))


Sekarang saya membayangkan bagaimana cerita pernikahan anak kedua petinggi partai itu. Tidak jauh dengan pertanyaan berapa.

Berapa kilometer jalanan terganggu? Berapa uang yang dikeluarkan untuk makanan dan pesta? Berapa total kerugian masyarakat umum atas diliburkannnya sekolah, pembongkaran sumber pencaharian masyarakat dan mobilisasi alat negara untuk kepentingan pribadi? Belum adakah peraturan bahwa sebuah pesta tidak boleh merugikan siapapun?

Hah! Semoga saya terhindar dari pernikahan yang pestanya saja menyengsarakan orang lain, kecuali mereka yang pernah mampir di cerita saya. *halah*