Minta Jangan Nyindir

by

Pagi ini saya membuka laman Facebook yang sudah saya telantarkan beberapa hari. Buka ini buka itu, balesin message, set game, barulah menelusuri jejak kabar kawan - kawan.

Hari ini lumayan istimewa mungkin, berderet - deret dari si A sampai si Z, update tentang "Kapan?".

Kapan soal itu yang ndak jauh - jauh dari beberapa contoh ini :

Si X : Kapan saya ketemu sang pangeran berkuda putih
Si M : Kapan si dia bakal muncul di hadapan saya
Si F : Kapan saya nyusul si anu itu yang anu hari ini
Yang agak religius dikit :
Si A : Ya Rabb, pertemukan hamba dengan si dia yang ganteng, smart dan kaya itu. *amin*

Sempet ngikik sendirian, soalnya yang menanyakan semuanya adalah wanita. Kompak ya. :D

Whelah, rupanya semua temen saya sudah pada dewasa, mikirnya ke arah sana :)).  Mungkin karena hujan yang turun deras beberapa malam terakhir membikin kawan - kawan saya tersebut, serempak menanyakan hal serupa di update nya.

Seneng sekaligus prihatin. Seneng karena temen - temen sudah pada mulai berpikir soal masa depannya.

Prihatin karena hal semacam ini memang nggak sepantasnya ditanyakan di status update.

Lha masa gitu? Coba liat, Nabi Muhammad memohon (yes am a Muslim, take the nearest example) pada Allah saja dengan menggunakan kata - kata ".. bila Engkau berkenan sudilah kiranya..". Padahal sudah jelas beliau itu nabi.  Siapalah kita mau memohon jodoh dengan cara bertanya - tanya, menyindir dan berdoa memaksa. Sudah setingkat sama nabi? :))

Kalo kata emak saya, jodoh, rejeki, pangkat lan pati - jodoh, rejeki, kedudukan dan kematian - adalah rahasia Tuhan. Namanya rahasia, ditunjukkan di saat yang tepat, ndak selalu sekarang, juga nunggu kita nya siap. Apalagi kalo ditanyakan dengan cara yang ngebet dan menuntut gitu, bisa - bisa malah ditahan - tahan nanti. :))

Mestinya ya, soal yang semacam itu cukup dibicarakan sama keluarga saja, sama ibu misalkan. Jadi bisa segera diatasi, mungkin bisa dicarikan kalo memang keburu - buru banget. *uhuk* :))