Jilbab itu Indikator ?

by

Saya bukan seorang yang sangat pandai dalam hal agama, bukan juga seorang yang ahli dalam dalil, bukan juga seorang alim tanpa cela. Tapi saya ingin berbagi pandangan mengenai jilbab ini. Kalaupun ada yang kurang sependapat, silahkan mengemukakan pandangan juga :D

Tergelitik atas retweet dari kawan saya di Solo sana

Saya Islam tapi tidak berjilbab,apa itu dasar anda menganggap saya lemah dalam iman?
Dan setelah saya reply, karena penasaran sih, akhirnya yang menanyakan membuka diskusi dengan saya. Posting ini tujuannya menjelaskan apa yang ada dalam pikiran saya, karena 140 karakter tentu tidak cukup untuk diskusi bukan?

Banyak diantara kawan - kawan muslimah yang enggan mengenakan jilbab karena banyak alasan, misalkan dianggap kuno, simbol kekangan, yang pakai jilbab tingkahnya sama saja atau alasan lain semisal karir. Ya, agama memang urusan personal, tiap orang berhak, bebas dan berkuasa atas pilihan - pilihan yang dia ambil, dan jangan lupa juga bahwa tiap orang bertanggung jawab atas pilihan - plihan tersebut. Salah satunya, tentang jilbab.

Tapi marilah kita melihat lagi keputusan tersebut, terutama yang belum mengenakan jilbab sebagai bagian wajib busana.

Goblok - goblokan saja ya -karena saya nggak pinter juga sih- ibaratkan saja memeluk agama ini seperti mengendarai sepeda motor. Berkendara dengan tujuan akhir yang ingin kita capai, berhati - hati agar tidak terpeleset, jatuh atau kecelakaan. Mengendarai sepeda motor ini cuma perumpamaan saja lho ya, special case untuk bahasan saya ini :D

Misalkan kita berkendara dengan kemampuan yang bagus dan berhati - hati, sudah taat semua rambu, untuk menuju satu tempat. Saat berkendara tersebut, tiba - tiba kita ditilang, karena nggak mengenakan helm, atau mengenakan helm yang tidak sesuai standar. Padahal SIM STNK lengkap dan masih berlaku, dan motor kita lengkap, karena helm, perjalanan terpaksa molor dan harus menjalani hukuman.

Helm wajib dipakai demi keselamatan pengendara, bukan cuma karena diharuskan secara hukum. Hukum hanya menguatkan posisi helm tersebut menjadi wajib dikenakan pengendara motor sebagai bentuk perlindungannya pada pengendara itu sendiri. Seperti hal nya helm, jilbab sebenarnya ada dengan tujuan melindungi wanita dari banyak hal, dan diwajibkan oleh yang membuat wanita sebagai bentuk perlindungan dan kasih sayangNya.

Selanjutnya soal meragukan iman, ini seperti meragukan skill berkendara dan keabsahan SIM. Dua hal tadi, sudah ada bagian sendiri yang berwenang mengujinya, dan itu bukan bagian kita. Apakah kita mesti meragukan skill seseorang berkendara hanya karena dia tidak memakai helm? Tentu tidak, buktinya dia bisa selamat naik motornya. :D Seperti hal nya jilbab, bukan merupakan satu - satunya hal yang bisa dipakai untuk menilai skill seseorang dalam meyakini dan mengimani sesuatu. Lagian kita ini siapa sih mau menilai kadar iman seseorang?


Nah gimana kalau jilbab tadi dikenakan asal saja, atau hanya demi formalitas?


Masih dalam perumpamaan helm, tentunya yang namanya mengenakan pelindung yang di wajibkan, meski sekedar formalitas saja lebih baik dibanding yang nggak mengenakan sama sekali. Kalau soal hukum nya jelas beda perlakuan, satunya karena nggak mengenakan sesuai peraturan, yang satunya mengenakan tidak sesuai peraturan alias di luar standar yang berlaku.

Itu kalo helm, simpel saja karena yang mewajibkan manusia, kalau jilbab tentu lebih rumit kita memandangnya karena semua bergantung pada niat individu. Bisa jadi dianggap sebagai penipuan karena memang niatnya untuk mengecoh, bisa jadi sebagai usaha kalau niatnya memang untuk usaha melaksanakan kewajiban, memulai dari sedikit dulu.

Kalau saya ditanya, apakah jilbab itu wajib?
Maka jawabannya adalah ya, tertulis dalam Al Qur'an ( tepatnya di surat Annur, thanks to Qodri sudah membantu melengkapi dalil ) seperti demikian.

Tapi kalau saya ditanya apakah itu indikator keimanan?
Indikator keimanan bukan cuma dilihat dari jilbab, dan saya atau siapapun manusia tidak punya kuasa mempertanyakan keimanan seseorang.

Just my two cents :)