Kepercayaan Plukuthuk

by

Seberapa mahalnya harga kepercayaan rakyat?

Untuk kampanye pemilihan kepala desa saja misalkan, kalau menempuh sistem kedermawanan dengan pembagian paket sembako untuk 500 kepala keluarga di sebuah desa terpencil (andaikan juga tiap paketnya senilai 100 ribu) maka harga "membuka gerbang simpati" dari kepercayaan itu saja adalah Rp 5.000.000,00 dan tidak bisa di-refund. Buka gerbang lima juta rupiah, demi simpatinya masyarakat maka mesti mengeluarkan dana lebih lagi, misal buat mengadakan dialog dan diskusi dengan ribuan janji, kampaye di panggung politik, dan bikin acara dangdutan bakti sosial. Kasarnya pasti habis lebih dari Rp 30.000.000,00.


Contoh tadi cuma berlaku buat 500 kk dari sebuah desa lho ya, itupun belum tentu semuanya percaya pada si pengabar berita baik dan janji tadi. Lha kalo sekarang harga kepercayaan rakyat Indonesia? Berapa?

Ah, saya tidak sanggup kasih itung - itungan, meski itu hitungan kasar sekalipun. Gambaran saja, bukan hitung - hitungan, para pemimpin bangsa kita yang terdahulu mendapat mandat dan kepercayaan rakyat setelah berulangkali bertaruh nyawa di medan perang dan diplomasi. Nyawa, tidak akan sanggup terbeli dimanapun.

mandat = kepercayaan = nyawa = tak terbeli.

Apakah mandat berat mengusung kepercayaan masyarakat Indonesia ini hanya ada di pundak para pemimpin saja? Tentu saja tidak, kepercayaan ini juga kami lekatkan pada mata dan telinga kami, untuk turut melihat dan mengawasi para pelaksana kebijakan negeri ini.

Kepercayaan masyarakat pada media, tempat penitipan mata dan telinga, adalah kepercayaan yang diberikan secara tulus tanpa harus meminta imbalan sembako seperti kampanye kepala desa. Kepercayaan yang tulus akan adanya kejujuran dan kemampuan media untuk menjadi telinga dan mata yang mendengar tanpa kabur bayangan dan suaranya.

Sejarah mencatat sejak abad 18 rakyat Indonesia sudah mulai mengenal bentuk kabar yang diliput oleh para wartawan, jaman dimana penjajahan Belanda masih berkutat dan mengakar di negeri ini. Saat itu, wartawan dan media adalah suatu lini penting dalam persatuan bangsa, mengabarkan warta yang terpercaya buat rakyat. Taruhan berita pada zaman tersebut? Tentu saja nyawa. Dengan taruhan kebenaran yang akan dipaparkan di hadapan rakyat, sedikit saja kesalahan berita adalah satu dosa besar.

Dan hari ini ada sejarah baru dalam media, sejarah gelap tepatnya. Jika kesalahan tak disengaja adalah sebuah dosa, maka berita dan narasumber palsu layak saya sebut apa?

Saya, seorang rakyat Indonesia yang menyerahkan mandat pada beberapa media untuk menjadi mata dan telinga saya mengawasi kerja orang - orang yang gajinya dibayar dari uang pajak rakyat. Dan hari ini saya dapat laporan dari media juga tentang adanya sebuah media yang menjual kepercayaan saya seharga Rp 1.500.000,00.

Dan lebih lagi kini media memberitakan berbagai kabar dengan nuansa politis dan cenderung menjadi alat perebutan kuasa dengan pemberitaan tak berimbang dan menyerang satu pihak. Saya tidak menuntut sebuah kenetralan total dari media, bagaimana pun sekarang media sudah menjadi bisnis. Bisnis dan kekuasaan adalah saudara kembar siam.

Ah, sudahlah, level saya belum cukup tinggi untuk bicara kekuasaan. Dan sekarang saya bingung harus mendengar kabar negeri ini darimana, mana saja diantara media ini yang bisa saya percaya sekarang? Semoga saja masih ada yang bisa.