Waktu Plukuthuk

by

Tua itu tak mengerikan, kita hanya perlu menikmati waktu untuk melihat keindahan menjaki tua.

Menjadi tua, seperti semua yang fana di bumi ini, adalah bentuk keterikatan pada waktu. Ya, keterikatan dengan waktu ini memang tak ada yang sanggup melepasnya. Bahkan Allah pun memberikan janji dengan menyebut " demi masa". Aku tak bermain dengan waktu, ataupun melawannya, atau mungkin menipu diri bahwa waktu tak berjalan. Saat ini aku hanya ingin menikmati waktu, tak seperti tiga perempat abad yang lewat.

Menikmati menjadi apa diriku, menjadi siapa diriku, dan bersama siapa diriku. Menikmati setiap detik perubahanku, dan setiap detik keberadaanku. Setiap detik aku bisa berbuat, dan tiap detik aku melempar senyum. Setiap detik aku merasakan keberadaanmu disisiku.



Dunia ini cerah, itu yang aku tahu saat menikmati waktu. Tak ada lagi terburu - buru dan detak adrenalin yang menghempas jantung. Aku mau menikmati waktu, dan tak ada yang akan goyahkan aku untuk jatuh dalam pusarannya.

Pagi ini aku duduk ditemani secangkir teh hangat, menikmati semilir pagi selepas subuh. Matahari terbit yang menawan itu, bersamanya aku nikmati waktu. Tak seindah binar matamu, tapi aku tahu ia cantik pagi ini. Hela nafas hening menemani beberapa menit paling tenang dalam pagiku, sebelum kemudian hela nafas membawaku menyusuri tanah peradaban ini. Aku melihat mereka yang bejuang demi hidup, dan aku bersyukur dapat menikmati waktu.

Bersama waktu, siang ini aku mendengar canda tawa bocah, mendengar celoteh mereka tentang siapa yang kalah dalam permainan kecilnya. Senyum mereka lepas, mereka menikmati setiap saat bersama kawannya. Memoriku terbawa pada waktu lampau, pada sahabat kecilku. Sudahkah mereka menikmati waktu? Ataukah mereka sudah melepas belenggu waktu?

Ah, sudahlah, mereka tentu pernah menikmati waktu juga, seperti juga kau.

Demi waktu, aku akan terus menikmatinya, membawa setiap keping panas yang menyengat ini sebagai pengingat, setiap tetes kesejukan ini sebagai panduan. Akan kunikmati waktu ini hingga aku kembali bersamamu, kau yang telah melepaskan belenggu waktu.

Kau bersantailah disana, aku berjanji akan pulang ke pelukanmu, bidadariku. Dalam keabadianmu.