Nekat Plukuthuk

by

"Lakukan saja, just do, kebanyakan menimbang malah lewat kesempatannya" demikian kata emak saya kemarin.

Ndak pake "just do" sih, itu saya tambahin biar emak saya keliatan keren.

Kalimat ini asal muasalnya adalah karena emak saya gemes ngeliat saya yang selalu takut - takut melakukan sesuatu. Well, kalo ditelusur sih dari waktu kecil banyak kegagalan memalukan yang terjadi karena ketakutan saya. Takut ndak jelas tanpa alasan, sebab nya sih tetap ada, tapi tidak ada alasan buat takut.

Waktu kecil dulu..saya ini pernah diundang ke ultah temen sekelas saya yang waktu itu keliatan cake. Dimana letak rumahnya, saya ndak tahu. Cuma ada undangan pesta yang diberikan pada saya.

Saat itu kedua orang tua saya lagi berada di kota lain untuk perjalanan dinas, dan cuma ada seorang pengasuh yang menemani saya dan adik kecil saya di rumah. Jelas saya ndak mungkin meminta pada sang asisten rumah tangga untuk mengantar saya, jelas si adik kecil nan ruwet itu tidak ada yang menjaga. Akhirnya saya putuskan untuk naik sepeda, ngonthel, meskipun letak rumah ini lumayan jauh.

Kota kecil seperti tempat kelahiran saya sangat sederhana pembagian jalur lalu lintasnya, ndak perlu banyak melalui jalan satu arah, atau mesti memutar dimana - mana. Cuma dua belokan saja untuk sampai di rumah itu. Belokan pertama keluar dari gang lingkungan tempat rumah saya, gang kedua masuk ke perumahan tempat dia tinggal. Sebegitu mudahnya, namun saya tetap tak berhasil menemukan tempat pesta diadakan.

Waktu itu saya tidak sedikitpun bertanya, cuma mengandalkan papan penunjuk jalan dan nomor rumah untuk menemukan tempat pesta berlangsung. Ketakutan tanpa alas an yang sangat menyedihkan. Tiga kali saya muter - muter di daerah tempat tinggal dia sebelum akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang. Undangan tertulis pukul empat sore, dan hingga jam lima lewat saya masih belum berhasil menemukan tempatnya, cuma gara - gara ketakutan jika harus bertanya. Akhirnya, kado ulang tahun yang sedianya akan saya berikan, saya bawa pulang lagi. Dengan kaki lelah mengayuh sepeda dan keringat yang sudah mengucur deras, saya pulang, gagal.

Kalo menurut kawan saya dari Suriname sana, ini judulnya ngisin isini. Sudah jauh jauh pergi, naik sepeda, pulang kepayahan, malah nggak berhasil. Hadoh..

Diturut dari sini, sekarang saya sudah lebih berani dari yang kemarin - kemarin. Berhati - hati itu penting, tapi berani jauh lebih penting. Kuncinya satu, langsung saja lakukan, ndak usah mikir banyak - banyak. Kalo pun mikir waktu sudah praktek saja, jadi tetep bakal terlaksana.

Terapi yang saya jalani sebenarnya mudah saja kok, memaksa diri buat berada di keadaan dimana inisiatif pribadi sangat diperlukan. Misalnya nanya jalan, orang nggak akan teriak teriak dari pinggir jalan buat ngasih tahu kita mesti lewat mana kan? Hehehe. Tapi ya dasar emang belom sembuh total, kadang saya dilanda ketakutan tanpa sebab yang lainnya. Setidaknya saya sudah berusaha kan? :D

Membentuk ulang emosi dan kendali diri adalah sebuah proses tanpa henti, selalu mencari dan menuju kesempurnaan. :)

FYI : Waktu saya balik dari kegagalan diatas, orang tua saya ternyata sudah pada pulang. Dengan segera, saya dianter naik motor butut punya bapak, ketempat pesta. Telat sejam lebih sih, ndak masalah buat anak polos macem saya waktu itu.