Rumah

by

Ya, disinilah aku. Terjebak di kamar sempit ini sendirian. Hujan di luar sana tak kunjung reda, membuatku bertambah lelah. Kantuk mendera, membawaku dan teh hangat ini dalam lamunan.

Aku kembali mengkhayalkannya. Rumahku nanti. Tempat ini kecil, bersahaja dan hangat aku menyebutnya. Tak terlampau megah layaknya istana yang diagungkan orang, namun kokoh dan indah. Ada kerinduan, yang membuatnya berbeda, yang membuatku nyaman disana. Wangi dedaunan dan rumput yang tumbuh tak beraturan. Hangat selimut kumal, segelas teh hangat.

Semuanya tentu akan melepas lelahku dari kejam hari ini. Senyum bodoh terkembang di wajahku.

Rumahku nanti. Rumah tempat aku pulang, tak perlu terlalu luas. Cukuplah ruang yang lega dan nyaman. Beranda tempat bercengkrama, kamar yang hangat buat kita. Halaman yang cukup untuk si kecil berlarian.

Ah, tapi itu masih lama. Masih jauh. Cepat - cepat ku usir khayalan itu dan bersiap tidur.

Mataku kian berat saat secarik kertas menarik perhatianku. Sepucuk catatan kecil yang kutulis beberapa bulan lalu.

Tahukah kau apa yang penting dari sebuah rumah? Ada kau, yang menjadikan lilin redup ini benderang buatku. Ada kau, yang akan memelukku dan melepas penatku. Ada kau, yang membuat makan malamku jadi lahap dan nikmat. Ada kau yang kulihat pertama di pagi buta. Ada kau, seluruh sisa hidupku.
Dan aku pun teringat padamu.