Kedunguan Umum

Saya kenal dua jenis kedunguan. Pribadi dan umum. 

Kedunguan pribadi cukup terjadi pada hal-hal yang tidak kita tahu dan tidak kita pelajari. Kedunguan umum, ya kedunguan pribadi yang dilakukan secara kolektif, berbarengan, ramai-ramai. Kedunguan umum ini pada akhirnya jika dikumpulkan akan jadi guyonan pedih dari mereka yang ngerti. 

Contohnya beberapa kasus ini.

Sekitar setahun atau dua tahun lalu, setelah lebaran, saya dan teman-teman seperjuangan SMA sedang ngumpul dan ngobrol ngalor-ngidul. Sampai kemudian kami sok bahas pemerintahan dan tiba-tiba bapaknya si temen ini nimbrung, saya masih adem ayem saja.

Yah, pada intinya beliau mempertanyakan dengan sok tahu kenapa mesti bayar pajak dan kenapa jalanan di kampung saya masih banyak yang berlubang juga kenapa pajak penghasilannya dia gede banget.

Protes. Argumennya disampaikan dengan berapi-api dan semangat, bagus, tapi ya kenapa kok terus protesnya ke saya?

Lah, saya ndak kerja di Departemen Pekerjaan Umum yang bagian bikin jalan atau juga ndak jadi Bupati atau juga anggota DPR yang bagian bikin aturan itu. Saat itu saya baru akan segera memenuhi panggilan untuk ikut ngurus negara ini dari sisi pajak. 

Sekalian saja saya ubah semua instansi pemerintah jadi kantor pajak, merangkap DPR, merangkap PU :))

Sejak itu saya mengenal kedunguan pribadi. Tidak mengerti, tidak bertanya tapi teriak. Setelah itu, mungkin baru belajar soal apa yang diteriakinya.

Nah sekarang ada lagi ini, NU akan (atau sudah?) bikin protes dalam bentuk fatwa untuk tidak membayar pajak. Sekarang saya sadar, kedunguan itu bisa kolektif juga.

Menurut yang saya baca, alasan protesnya karena korupsi pajak sudah sedemikian besar, maka sekalian saja nggak usah dibayar. Mudharat! Bakal dikorupsi juga uang pajaknya.

Saya tidak membantah kalau dibilang korupsi pajak itu besar sekali. Memang demikian adanya. Coba pikir, kalau sekarang APBN yang trilyunan itu 80% dari uang pajak, maka seluruh korupsi yang dilakukan atas APBN ya 80% korupsi pajak. Lho lha gimana saya mau bantah.

Argumen mereka benar. Cerdas, tapi ya itu, dungu juga. :P

Entahlah kapan akhirnya orang - orang bakal mulai membaca, bertanya atau setidaknya googling untuk benar tahu apa yang dia teriaki. Kedunguan ini merata di semua tingkat dan sepertinya terus meningkat. Ha!

Duit Receh dan Pertamina

Receh buat saya adalah standar para kelas menengah buat merelakan rupiahnya untuk diberikan pada layanan non resmi semacam parkir, musik karya pengamen atau secara cuma - cuma pada kotak sumbangan. Duit receh ini merupakan batas kerelaan, titik dimana tidak ada ganjalan di hati, rela saja kalau diberikan ke orang atau tidak diminta kalaupun tidak ada uang kembalian.

Selama ini saya pikir receh itu paling banyak seribu rupiah, satuan receh paling besar dalam bentuk koin. Hari ini saya baru sadar kalau standar nominal uang receh ini sudah sangat bergeser.

Setahun lalu duit kertas paling kecil dan juga receh paling besar yang paling gampang ditemukan adalah lembaran Pattimura seribu rupiah, sekaligus juga pecahan paling besar dalam bentuk koin. Seribu ini merupakan titik paling pas, bentuknya kertas, masih pantas lah diberikan pada bapak tukang parkir yang nongkrongin motor. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit.

Baru kemudian muncul pecahan dua ribuan, dan lambat laun tukang parkir liar pun naik tarif, duit seribuan makin susah didapat.  Seperti tukang parkir di Seven Eleven Kemanggisan,  seribu rupiah pasti masih minta tambah. Buat saya ini menyebalkan, tarif parkir motor naik dua kali lipat dan jelas tidak akan bertanggung jawab kalau helm yang ditaruh di motor hilang, baik helmnya saja atau sekalian motornya.

Soal duit receh ini, rasa-rasanya kalaupun ada yang lebih menyebalkan daripada dimintai parkir motor dua ribu rupiah, itu adalah kejadian yang saya alami kemarin sore di sebuah pompa bensin dekat kantor. Alkisah setelah menerima Soekarno-Hatta dari saya, petugas pompa bensin tersebut memberikan uang kembalian sebesar Rp 71.000,00 dari harga bahan bakar Rp 28.175,00 untuk mengisi penuh tangki motor saya.

Disinilah seratus tujuh puluh lima rupiah bisa digenapkan menjadi seribu. Cuma butuh lima menit kurang.

Nah, seratus tujuh puluh lima rupiah digenapkan menjadi seribu rupiah? Penggenapan macam ini menyeramkan sekali, jangan - jangan suatu saat ketika duit seribuan susah ditemukan, seratus tujuh puluh lima rupiah bakal digenapkan jadi dua ribu? *masukkan emot ketawa prihatin disini.*

Dan hal ini terjadi biasa saja. Tanpa permintaan maaf karena tidak ada uang kembalian, tanpa ekspresi sungkan. Biasa saja, seolah hal serupa sangat sering terjadi.

Padahal saat saya mengantri, tidak kurang ada dua puluh sepeda motor lain sedang mengisi bahan bakar disitu. Dalam waktu sedemikian singkat, selama mengantri hingga selesai, sudah dua puluh motor. Bagaimana jika seharian, ada berapa saja yang mengisi bahan bakar disana? Saya bayangkan, kalau masing-masing saja merelakan rupiah - rupiah kecil kembalian transaksi, pasti banyak yang sekali bisa didapat selama sebulan tanpa perlu menjual apapun kepada siapapun.

Recehan ini mungkin saja kecil-kecil, tapi satu juta kurang seratus rupiah, tetap saja bukan sejuta kan?

Ya sudahlah, kalau nanti beli BBM lagi sebaiknya pakai uang pas dan tunjuk jumlah rupiah. Jaman parkir sudah dua ribu rupiah ini, Pertamina sepertinya makin sulit cari receh untuk uang kembalian.

Cerita Bapak dan Cerita Para Menteri

Saya masih ingat bagaimana saat saya masih kecil dulu memprotes bapak dan ibu saya yang sering pulang malam. Waktu itu saya masih di TK, bocah kecil yang sangat manja pada bapak ibunya.

Mereka tidak pernah membentak dan menyuruh saya diam. Cara menanggapi protes mereka cerdik. Saat saya protes, mereka lantas bercerita tentang apa - apa yang mereka alami di sekolah dan kadang membawa saya ke sekolah tempatnya mengajar.

Biar saya melihat, kata bapak. Tentang bagaimana lucunya murid-murid mereka saat menjawab soal , tentang bagaimana nanti kalau mereka tidak mendapat pengetahuan yang cukup. Dan kemudian protes saya berubah jadi pemahaman, tentu saja masih pemahaman polos seorang bocah kecil manja.

Saya tiba-tiba ingat bagaimana bapak ibu saya dulu memahamkan saya pada tindakan mereka, ketika membaca dua berita hari ini, tentang dua orang Menteri kita dan cara mereka menjelaskan kebijakan mereka pada publik dan "anak-anaknya" di Kementerian masing-masing.

Dalam satu berita dikisahkan -atau lebih tepatnya digiring untuk menjadikan- sang menteri sebagai manusia bebal yang memilih merumahkan karyawan maskapai penerbangan dengan memberikan masing- masing dua hektar lahan sawit. Satu berita lainnya, mengenai gagasan TOEFL dengan skor 600 untuk pegawai negeri sipil di kementeriannya. Enam ratus buat skor TOEFL itu tidak main - main lho. :))

Dan ya, dia dipelintir tanpa ada yang melihat kepentingan jangka panjang, jadi guyonan di linimasa. Saya juga terseret menertawakan kebijakan tersebut, tanpa tahu lebih dulu apa maksudnya. :))

Permainan media semacam ini sudah sangat umum. Dengan potongan - potongan berita yang singkat dan pernyataan yang dipotong-potong, gampang saja kita tergiring mempercayai berita tersebut bukan?

Bedanya, Menteri yang pertama menuliskan blog pribadinya (?) mengenai kebijakan - kebijakan yang dia ambil. Jadi saya bisa membaca langsung, buah pikiran yang keluar darinya, tanpa ada pemenggalan kalimat atau apapun yang menambah ketidak jelasan maksud wawancara. Sedangkan menteri yang kedua, hanya menerima wwancara dan mengeluarkan press release dan kemudian dibenturkan dengan hasil-hasil wawancara sebuah media dengan anak buahnya.

Kemudian bisa ditebak, beberapa media langsung menjadikan gambaran seolah kementerian ini menjadi tidak solid, banyak penentangan dari pelaksana. Bahwa para PNS langsung gelisah mendengar kabar tentang standar TOEFL 600 ini.

Padahal sebenarnya tidak perlu khawatir, TOEFL 600 itu standar, pencapainnya akan bisa kita lihat dari hasil evaluasi nanti!

Yang diutamakan pastinya adalah pendidikan dan penguatan mutu pegawai, bukan cuma skor. Barangkali terlalu tinggi, maka standar ini bisa saja disesuaikan. Intinya Kementerian ini menghendaki bahwa setiap PNS dalam naungannya nanti bakal memiliki kemampuan yang tinggi utamanya dalam komunikasi. Hanya saja, maksud ini tidak tersampaikan dengan baik.

Menurut keyakinan saya, jadi pemimpin kunci utamanya ada pada dialog, mampu menyampaikan, mampu mendengar. Yang bisa jadi pemimpin yang baik adalah dia yang bisa berkomunikasi langsung, tak perlu terlalu pintar, namun harus bisa memotivasi.

Seorang menteri yang memiliki bawahan ribuan manusia ini, harus bisa menjelaskan layaknya orang tua memberi pengertian pada anaknya. Menyampaikan rencana dengan cerita - cerita yang mereka sendiri dari kata dan tulisan, berbicara dengan cerdas pada anak-anaknya yang belum mengerti.

Semoga bapak ibu menteri sekalian segera menyadari ini dan mulai menulis esei beberapa hari sekali. Semoga.

2011, Catatan


2011 adalah tahun dimana

Januari, sebuah kue dari teman - teman magang, awal yang manis :)

Saya belajar bahwa kantor adalah tempat yang ganas, politik kantor itu ada. working sucks! Being unemployed even worst.

Menghadapi puluhan orang sehari dan jadi menjawab semua pertanyaan. I feel genius!

Procrastinating is not good, and yes, bureaurcracy sucks even for bureaucrates.

I write less, work more, trained less, tweet more.

I am 100! Big and h(eavy)ppy

Teman datang darimana saja, Saumlaki, Ruteng, Praya. I will be there guys. Someday with assignment letter. (--,)

Dua minggu berlalu cepat, namun cukup untuk jatuh cinta. :)

Setelah tugas di Surabaya, Tulungagung, Trenggalek, akhirnya : Jakarta.

Jakarta tidak sekejam itu, cuma yang sering PMS, dan ini betul adanya.

Kopdar lebih penting dari posting, seringnya sih.

Wajah berwibawa adalah, saat dituduh sebagai oom - oom. :'))

Pocong di Mako Kopassus bisa ditinju dan terkapar setelahnya. 

Militer tidak butuh orang pintar, that explains what happens now and then, until 2014.

Dua bulan terlalu cepat, dan bulan sesudahnya terlalu sibuk. So lets party everyday!

Too many tablets will kill you..so I bought a Nexus S. XD

Blow the nuke in devils nest, Dirty Bit! XD

Pindahan beberapa kali dalam setahun, kosan terbaik adalah yang menyediakan bebek gulai buat makan malam. :))

Bertemu dan mengenal banyak orang luar biasa, para manusia perkicau, tetangga baru,dan beberapa perjalanan yang penuh..de javu.

dan terakhir

Desember, saat tulisan ini diposting, saya sedang berada di pesawat, kembali dari pesta pernikahan seorang kakak, seorang teman, yang dengan sabar menulis ulang PR nya yang saya jadikan pesawat mainan. Selamat buat hidup barumu kak :)

Happy New Year, Happy New Life. Two Oh Eleven was awesome!